Pagi ini, saya dan S2 pergi membeli bubur. Di perjalanan, ramai sekali suara-suara kendaraan juga lalu lalang kesibukan orang. Tidak seperti kemarin-kemarin yang lebih sepi. Saya baru sadar, ternyata hari ini adalah hari pertama kembali masuk sekolah usai libur panjang nataru.
Mohon maklum, jadwal libur dan jadwal masuk sekolah memang tidak terlalu saya ingat. Anak pertama kami (S1) belajarnya memang di rumah.
Tulisan saya kali ini mau menyoal sedikit tentang pengorbanan. Apapun keputusannya, apakah anak akan belajar di sekolahan atau anak akan belajar di rumahan, kedua-duanya sama-sama punya pengorbanannya.
Saya cukup sering dapat cerita, kalau anaknya sekolah, maka di dalam rumah itu suasananya akan hectic luar biasa. Mulai dari membangunkan anak, nyiapin air buat mandi, masak buat sarapan, buku-bukunya anak-anak yang kadang ketinggalan, baju sekolahnya, sepatunya, dan lain-lain. Belum lagi kalau bareng sama berangkat kerjanya orangtua, maka persiapannya jadi double. Hanya dalam waktu yang tidak lama.
Kebayang sih kayak gimana hectic-nya.
Tapi, jangan salah, yang memilih anak belajar di rumahan pun sama-sama berat pengorbanannya. Soalnya, semua tingkah polah anak jadi serba terlihat. Kalau anak sekolah, ‘kan ada waktu sekian jam lah orangtua tidak lihat anaknya. Ada moment orangtua bisa punya “me time”. Tapi, coba kalau anaknya belajar di rumahan? Rumah ya berantakan terus. Nyaris orangtua nggak punya “me time”. Anak-anak mandi kadang siang banget.
Dan, ini yang lebih challenging: “anak-anak hari ini kegiatannya apa ya?” Bisa pusing sendiri tuh orangtua mikirin itu.
Maka, pengorbanan itu adalah keniscayaan dalam sebuah Keluarga. Kisah Nabi Ibrahim as. yang mengorbankan anaknya, Ismail, benar-benar membekas di hati kita. Dan, karena pengorbanan itulah Keluarga Nabi Ibrahim as. dimuliakan hingga sekarang. Bahkan hingga akhir zaman nanti, episode peradaban manusia di dunia ini adalah episode keuturunannya Keluarga Nabi Ibrahim as.
Jadi, bila sedang merasa jadi yang paling berkorban untuk keluarga, sejatinya kita sedang “memanjangkan umur” kita dan mendapatkan kenikmatan yang tiada tara.
Sepulang dari membeli bubur, S2 menggumamkan sesuatu. Setelah saya perhatikan baik-baik, ternyata dia menggumamkan Surat Al Kautsar. Dengan nada suaranya yang khas, huruf “r” belum terlalu jelas bisa ia ucapkan, S2 menggumam,
اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ
“Sesungguhnya Kami telah memberimu nikmat yang banyak”
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ
“Maka laksanakanlah sholat dan berkurbanlah”
اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُࣖ
“Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus.”
Istilah Abtar di akhir surat Al Kautsar adalah istilah yang diberikan kepada mereka yang terputus keturunannya. Jadi, ada semacam benang merah antara pengorbanan dan keluarga (keturunan). Dan, jangan lupa ayat pertamanya, siapapun yang berkorban di keluarga ini, sesungguhnya ia telah dan akan mendapatkan nikmat yang sangat banyak.
Yuk, kita cukupkan obrolan soal siapa yang paling berkorban di Keluarga ini? Karena, semuanya pasti berkorban.
Salam,
Founder Sekolah Rumah Tangga