Edukasi tentang Luka Keluarga yang diturunkan antar generasi, sudah sangat masif bertahun-tahun ini, dan kita pun bisa mengerti apa maksud dari Luka yang diturunkan itu?
Namun, bagaimana dengan Risalah Keluarga?
Bahwa setiap keluarga punya tugas, punya misi, punya jati diri, DNA, dan justru mestinya Risalah itu dilanjutkan secara turun temurun lintas generasi.
Ironisnya, banyak anak-anak lahir tanpa melanjutkan Risalah yang sudah diemban oleh Ayah Ibunya —bahkan tidak tahu Risalah Keluarga itu apa? Anak-anak itu lalu mati, dan kehidupan cucu-cucu pun tidak lagi mengetahui Risalah Kakek Neneknya, sampai mati, dan seterusnya.
Lebih menyedihkan lagi kala banyak influencer yang terus mengiklankan: Anak-anak tidak perlu melanjutkan mimpi Orangtuanya; juga Orangtua tidak perlu membebankan mimpinya kepada anak-anaknya, karena -katanya- hal itu akan menorehkan luka!
Diselipkan juga soal Sandwich Generation yang perlahan-lahan menjauhkan anak dari amalan unggulan: Birrul Walidain!
Tapi, mari kita ketengahkan ini secara tepat.
Jika impian orangtua itu secetek urusan duniawi, secetek mengumpul-ngumpulkan harta sampai mati, ambisi duniawi itu ya memang jangan dibebankan kepada anak.
Tapi bagaimana jika harapan Orangtua itu adalah soal keutamaan yang ingin diraih di Akhirat kelak?
Maka, tidak mungkin harapan ini tidak disampaikan kepada anak keturunannnya.
Sampai sini pun masih ada juga perang pemikirannya, yang mereka sebut Toxic Spirituality, Toxic Positivity.
Saya tidak perlu menanggapi kalau masih pakai kata “Spiritual”, atau “Positif”. Tapi, kalau sudah menyinggung soal Keimanan akan Hari Akhir, maka harus diluruskan.
Ada orangtua yang ingin membawa keluarganya mencapai derajat mulia di akhirat kelak, dan itu berangkat dari keimanannya kepada Allah. Inilah justru kebenaran!
Sebagaimana Nabi Ibrahim as. yang berdoa tidak hanya untuk dirinya tapi juga untuk anaknya, dan bahkan dzurriyah (keturunannya):
رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَآ اُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَۖ وَاَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَاۚ اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
“Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri kepada-Mu, (jadikanlah) dari keturunan kami umat yang berserah diri kepada-Mu, tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan manasik (rangkaian ibadah) haji, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” – QS. Al Baqarah: 128
Selain itu, kita pun tahu betapa khawatirnya Nabi Zakariya apabila tidak ada yang mewarisi risalahnya; gelisah apabila tidak ada anak yang melanjutkan perjuangannya.
“Sesungguhnya aku khawatir terhadap Mawali (pelanjut Risalah Kenabian), sedangkan istriku adalah seorang yang mandul. Anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu.
(Seorang anak) yang akan mewarisi aku dan keluarga Ya‘qub serta jadikanlah dia, wahai Rabbku, seorang yang diridai.”
QS. Maryam: 5-6
Jadi, Risalah ini bukan urusan dunia. Ia adalah tugas langit. Dan, sebagai pewaris para Nabi, setiap keluarga, tetap punya amanah itu untuk dilanjutkan pada generasi selanjutnya agar kehidupan manusia bisa berjalan sesuai dengan apa-apa yang Allah Ridhai.
Cukup dulu tulisannya, apa ada penolakan sampai sini?
oleh: Ulum A Saif
Founder Sekolah Rumah Tangga