Ayah Bunda, beberapa hari lalu, kami berkunjung ke sahabat kami yang baru selesai dioperasi. Kami mendoakan yang terbaik untuk kesehatan sahabat kami ini. Sahabat yang sudah seperti keluarga ini membuat kami selalu nyaman untuk ngobrol apapun. Apalagi latar belakang kami nyambung. Kami yang senang dengan hal-hal kerumahtanggaan, dan sahabat kami yang seorang psikolog. Maka, tidak bisa tidak, obrolan kami akan jadi sangat hangat dan cair 😊
Dari mulai obrolan soal operasi, dokter, rumah sakit, lalu tiba-tiba jadi ngobrolin Indonesia yang Darurat Bunuh Diri, sampai akhirnya ke Hoarding Disorder.
Kalau belum tahu atau baru sekarang ini dengar istilah Hoarding Disorder, mungkin tayangan yang sempat viral ini bisa bikin Ayah Bunda terbayang tentang apa itu Hoarding Disorder (cek slide setelah ini ya)
Gimana?
Apa kesan pertama Ayah Bunda setelah nonton video tadi?
Jijik, ya?
Bagaimana kalau itu ternyata terjadi pada pasangan atau anak kita kelak, Ayah Bunda?
Gimana perasaan Ayah Bunda?
Nah, kami ngobrolin soal Hoarding itu bareng sahabat kami yang baru selesai operasi. Kalau diterjemahin secara bebas, Hoard itu artinya Timbunan. Sebagai seorang psikolog, sahabat kami ini bilang, kalau Hoarding itu bukan soal “malas”, atau “tidak tahu kebersihan”, justru biasanya orang-orang yang begitu itu kalau di luar kamarnya atau di luar rumahnya tampil dengan sangat cantik, ganteng, pakaiannya bersih, rapi, wangi, pokoknya sedap dipandang mata.
Orang-orang pasti enggak akan nyangka kalau ternyata di rumahnya atau di kamarnya, itu berantakan, penuh dengan sampah, bahkan menumpuk kotoran.
Apa sih penyebabnya Hoarding Disorder ini?
Tidak ada jawaban yang pasti. Tapi, secara kejiwaan, masing-masing penderita Hoarding Disorder itu punya “kemelekatan” tertentu terhadap barang. Nah, sebab dari melekatnya jiwa seseorang terhadap barang, itu beda-beda. Kalau udah ketemu, kenapa bisa semelekat itu, maka proses untuk menyembuhkannya akan jadi lebih mudah. Tapi, kalau belum ketemu, kenapa sebegitu melekatnya? Nanti proses nyembuhinnya jadi sulit.
Dengar penjelasan Hoarding Disorder itu seperti itu, spontan kami jadi ingat dengan topik bahasan Fitrah Estetika & Bahasa dari Alm. Ustadz Harry Santosa Hasan. Pada saat banyak orang tua kini yang mulai peduli dengan gairah belajarnya anak, juga (mohon maaf) semangat dengan checklist ibadah hariannya anak, kesemuanya itu sesuatu yang patut untuk kita syukuri bersama. Tapi, agaknya masih sedikit yang ngeuh bahwa dalam diri anak kita juga tertanam fitrah yang punya keistimewaan yaitu soal keindahan. Dan keindahan (estetika) relate dengan bahasa.
Kebayang gak kalau aktivis dakwah, pergi ke berbagai penjuru negeri, tapi ternyata di dalam kamarnya menumpuk sampah dan kotoran? Semua ucapan dakwahnya jadi runtuh seketika.
Nah, ternyata, Estetika ini tidak bisa dipisahkan dari Bahasa. Perhatiin deh, orang yang mau lepas dari Hoarding Disorder itu harus menceritakan kenapa ia bisa semelekat itu kepada benda-benda? Bukankah aktivitas menceritakan itu adalah bagian dari berbahasa?
Maka, Ayah Bunda, yang sudah belajar tentang Fitrah Bahasa & Estetika, yuk kita muroja’ah lagi sama-sama.
Sementara, yang masih asing dengan Fitrah Bahasa & Estetika, ada E-Course Selaras yang baru saja dibuka pendaftarannya. Salah satu topiknya nanti akan membahas soal itu. Bahkan, sebenarnya bahasan di E-Course nya dimulai dari yang paling dasar, yaitu Apa itu Manusia? Juga kenapa untuk jadi orangtua itu perlu untuk belajar?
Cek selengkapnya disini: KELAS SELARAS
Founder Sekolah Rumah Tangga