Menjadi Orangtua, bagi saya, adalah moment dimana kita mengalami Spirituality Growth. Rasanya, belum pernah saya sedemikian berharapnya akan hadirnya Pertolongan Allah, kecuali setelah punya anak. Apakah Ayah Bunda juga merasakan hal yang sama?
Sejak tahun 2000 an, mulai masuk pendidikan keorangtuaan (Parenting) di Indonesia. Mulai bertebaran pula cara-cara, baik yang sifatnya prinsip hingga pada yang teknis, tentang bagaimana agar kita bisa tunai peran sebagai orangtua dengan baik.
Konsekuensinya, cara-cara itu jadi mengkoreksi cara-cara lama yang dianggap keliru, bahkan salah.
Hingga zaman pun berubah jadi zaman terbukanya Informasi. Kita tenggelam dalam Tsunami Informasi, lalu bingung, informasi yang mana yang harus dipelajari?
Kecepatan kita dalam memahami sesuatu kalah jauh dibanding kecepatan informasi yang datang dalam sepersekian detik.
Efeknya?
Stres, Tegang, Jauh dari Tenang, Takut Ketinggalan yang lagi Tren, Was-was kalau-kalau apa yang dilakukan ini tidak sesuai dengan “keilmuan” standar sosmed, dan efek-efek tekanan lainnya.
Pada saat itu, orang-orang kembali mencari kesejatian, kembali mencari ketenangan, kembali mencari hal yang jadi prinsipnya prinsip.
Dan, sebagai orang yang mengaku punya iman, tentu saja kita akan mencari itu pada tuntunan yang sejati: Kalamullah, Suri Tauladan dari Rasul, penjelasan para Sahabat dan Ulama, hingga circle orang-orang yang sholih di zaman sekarang.
Prinsip menjadi Orangtua ternyata “sederhana”. Saya beri tanda petik karena sebenarnya ada keagungan dalam kesederhanaan itu.Prinsip menjadi Orangtua adalah: Menghantarkan Anak ini untuk menjadi Hamba Allah yang Memakmurkan Bumi
Sebab, itulah sejatinya kenapa manusia diadakan. Itulah amanah yang dititipkan kepada orangtua atas hadirnya anak ini.
Amanah itu bukan hal-hal lain. Amanah itu bukan perkara-perkara lain. Justru, yang lain, hanya sampingan atau hanya faktor pendukung agar tunai peran pokok sebagai orangtua: menghantarkan anak menjadi Hamba Allah yang Memakmurkan Bumi.
(Lihat QS. Adz Dzariyat: 56)
(Lihat QS. Al Baqarah: 30)
Maka, kepada orangtua yang peduli dengan kesehatan emosi anak, melalui tulisan ini saya mengingatkan diri dan kita semua; tempuhlah perjalanan pembasuhan luka itu untuk menuju pada kesejatian peran anak: sebagai Hamba Allah dan Pemakmur Bumi.
Sebab, emosi-emosi itu, jika keliru mengelolanya, ia akan menutupi dari kesejatian peran ini.
Begitu pula kepada orangtua yang giat untuk mengenal diri dan mengenal potensi anak, saya juga mengingatkan kepada diri dan kepada kita semua; tempuhlah perjalanan pengenalan diri dan anak ini untuk menuju pada kokohnya peran sebagai Hamba Allah dan Pemakmur Bumi.
Untuk apa kita mengenali potensi jika ujungnya adalah merusak bumi ini?
DOAKAN – CONTOHKAN – AJAKAN
Setelah dapat kesejatian tugas Amanah orangtua, perlahan-lahan, kita akan mulai butuh hal yang sifatnya “teknis”.
Saya (di Sekolah Rumah Tangga) sudah mencukupkan pada 3 hal ini saja:
1. Doakan
2. Contohkan
3. Ajakan
Kenapa orangtua perlu mendoakan anak?
Sebab, inilah bukti bahwa kita ini Hamba Allah dan ingin menghantarkan anak menjadi Hamba Allah.
Ciri paling pokok dari Hamba Allah adalah Berdoa.
“Dan jika hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat, Aku Mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” – QS. Al Baqarah: 186.
Kenapa Orangtua perlu mencontohkan?
Karena inilah esensi dari diutusnya para Rasul.
Mengapa Allah Swt mengutus para Rasul, terutama Rasulullah Muhammad SAW; ialah untuk menjadi Suri Tauladan bagi umatnya. Ada contoh, yang juga datang dari manusia, sehingga bisa ditiru oleh manusia.
Maka, demikianlah pula orangtua kepada anak.
Dan, ketiga, kenapa kita mengajak anak?
Karena inilah puncak tugas dari para pengemban amanah, yakni mengajak (Da’wah).
Banyak yang menyimpan objek da’wahnya (mad’u) adalah orang-orang yang jauh di luar sana. Padahal, Allah telah hadirkan mad’u itu dekat dan ada di dalam rumah.
Siapa?
Anak kita.
Maka, ajaklah.
Namun, jangan asal ajak. Mulailah dulu dengan mendoakannya. Mencontohkannya. Baru kemudian mengajaknya.
Keilmuan tentang mengenali diri anak sebetulnya adalah agar orangtua bisa tepat dalam mengajak anak.
Maka, hanya dengan 1 artikel tulisan ini saja, insyaAllah, ini cukup menjadi bekal saya pribadi, keluarga saya, juga mungkin teman-teman yang ingin mencari bekal sejati di tengah lautan informasi yang semakin tidak terkendali ini.
Wallahu a’lam.
Salam,
Ulum A Saif
Founder Sekolah Rumah Tangga
One thought on “Inti Peran Orangtua”