Seorang Ayah mengirim Direct Message ke saya di Instagram. Ia berseloroh, “tolong ajari Public Speaking untuk para Khatib, agar Jama’ah tidak mengantuk.”
Saya merespon dengan memberi emoticon 😅 antara sedih, getir, lucu sambil mikir.
Menjadi Khatib Jum’at memang tidak mudah. Sang Khatib tidak bisa berinteraksi saling lempar pertanyaan dan jawaban dengan “audience” sebagaimana yang dilakukan oleh para pembicara publik untuk mendapatkan atensi penuh dari “jamaah”-nya.
Di waktu yang bersamaan, sebagai jama’ah, kita pun perlu untuk mengevaluasi diri. Bagaimana kita akan berjihad fi sabilillah, jika berjuang menahan kantuk saat khutbah jum’at saja kita ini kalah?
Tulisan saya sebenarnya bukan menyoal lebih dalam tentang mengantuk atau performa Khatib Jum’at.
Sebagaimana tulisan-tulisan sebelumnya, saya sebenarnya mau membahas tentang keluarga.
Bismillah.
Dear para Ayah.
Hampir setiap Jum’at, kita menyimak wasiat Taqwa dari Khatib. Taqwa adalah Melaksanakan segala Perintah Allah, dan Meninggalkan segala apa yang Dilarang oleh Allah.
Penggalan kalimat pertama, yaitu “Melaksanakan Perintah Allah” adalah penggalan kalimat dengan nuansa Progresif-Optimitis.
Sementara pada penggalan kalimat kedua, yaitu “Meninggalkan Apapun yang Dilarang Allah” adalah penggalan kalimat dengan nuansa Waspada-Defensif.
Dari sini, perlahan saya mau bawa ke keluarga.
Kira-kira, di keluarga kita masing-masing, nuansa mana yang lebih awal dimunculkan?
Apakah lebih dulu nuansa Progresif-Optimis? Atau lebih dulu nuansa Waspada-Defensif?
Saya akan coba permudah, mana yang lebih sering menjadi atmosfer dalam rumah kita?
Apakah soal Perlindungan Keluarga? ataukah soal Pembangunan Keluarga?
Yang pertama, yaitu Perlindungan Keluarga, amat kuat nuansa Waspada-Defensif. Sementara yang kedua, yaitu Pembangunan Keluarga, amat kuat nuansa Progresif-Optimis.
Di sesi Coaching atau Konseling Keluarga, saya cukup sering berjumpa dengan tipe Suami yang Progresif-Optimis, sementara Istrinya bertipe Waspada-Defensif.
Suami, amat optimis bahwa kehidupan ini akan baik-baik saja. Sementara Istrinya amat khawatir bahwa kejadian-kejadian buruk akan terjadi di depan.
Namun, tidak semua polanya seperti itu. Karena ada juga yang sebaliknya. Suami yang bertipe Waspada-Defensif, sementara Istrinya bertipe Progresif-Optimis.
Ketika belum memahami ini, keduanya sering cek-cok memaksakan pandangannya masing-masing.
Apakah Anda masih mengalaminya?
Tenang, tulisan ini masih akan berlanjut nanti. Sekarang, kita simak dulu Khutbah Jum’at di masjid terdekat 😇
Salam,
Founder Sekolah Rumah Tangga