Beberapa hari lalu, such an honor banget diminta sama Kang Harri untuk ikut bahas Film SORE di dalam webinar
Bagi yang belum nonton, dan anti kena Spoiler, sebaiknya jangan lanjut baca tulisan ini.
Tapi, kalau udah sempat nonton, kita sama-sama tahu, ya, review dan film ini udah banyak banget dibahas dimana-mana.
Meski gitu, apa yang mau saya bahas sekarang, sepertinya jarang atau mungkin belum ada yang pernah mengangkat hal ini.
BTW, sebelum bahas itu, sesi webinar dari Kang Harri beneran bikin mindblowing. Kang Harri ngebahas film Sore pakai frame pola perubahan NLL (Neurological Level-nya Robert Dilts)
Pas saya lagi terkesima sama penjelasan Kang Harri, tiba-tiba Kang Harri nanya, “kalau menurut Kang Ulum, gimana? Apa yang menjadi titik balik berubahnya Jo setelah berkali-kali gagal diubah oleh Sore?”
Saya jawab, “Sebenarnya, Kang, jauh sebelum Sore menginginkan Jo berubah, ada perempuan lain yang lebih dulu menginginkan Jo berubah, yaitu Elsa.
Bahkan, Elsa sudah tahu jika kebiasaan buruk Jo itu harus diubah bukan dengan mengganti kebiasaannya, tapi dengan menemui ayah kandungnya.
Kalau dihubungkan dengan penjelasan NLL dari Kang Harri tadi, berjumpa dengan ayah yang telah meninggalkannya di usia 4 tahun dan menikah dengan perempuan lain itu akan cepat membantu Jo menemukan Makna baru atas pandangannya kepada ayahnya.
Dan, Pemaknaan adalah Level Tertinggi dari faktor yang mengubah seseorang.”
Pertanyaannya, kenapa Elsa gagal mengubah Jo, padahal Elsa tahu betul akan hal ini?
Kenapa Elsa gagal mengubah Jo padahal Elsa tahu betul apa yang jadi akar masalahnya kenapa Jo itu terus saja berkutat dengan kebiasaan buruknya?
Jujur, saya dapat jawabannya ini dari Istri,
“jawabannya adalah karena Elsa pakai cara Mothering!”
Dan, Jo, bergeming. Ia sama sekali tidak berubah.
Laki-laki dewasa —setidaknya umurnya yang dewasa, akan tumbuh gengsinya, dan ia sangat tidak nyaman jika harus “disuruh-suruh” dengan gaya seperti Ibu yang nyuruh-nyuruh ke anak kecilnya.
Ini yang menjadi pembeda antara Elsa dan Sore. Elsa pakai pendekatan Mothering.
Sementara Sore —setelah tahu kalau ternyata Jo begitu karena ada ‘Unfinished Business’ sama ayahnya, Sore langsung mengubah posisi sebagai Partner-nya Jo.
“Aku akan tetap ada di sini, menunggu sampai kamu siap,” ini partnering dari Sore kepada Jo.
Akan tetapi, Jo yang perlahan berubah karena terinspirasi oleh gaya partnering dari Sore itu tidak dikehendaki oleh Sang Waktu.
Bagaimanapun, itu bukanlah perubahan yang muncul dari dalam dirinya. Jadi, apakah Jo pada akhirnya berubah jadi lebih baik? Di titik mana Jo memutuskan untuk berubah atas sesuatu yang muncul dari dalam dirinya?
Buat para Suami, valid gak nih kalau kita lagi disuruh-suruh sama Istri, itu tuh beneran bikin gak nyaman karena merasa lagi dianggap sebagai anak kecil, betul?
Buat para Istri, pengen banget dong jadi Sore buat suaminya, iya kan? tapi coba cek, apakah setiap sore, bahkan setiap pagi, siang dan malam, Anda betul bersikap menjadi Sore atau justru malah menjadi Elsa? 🤔✌️
Apakah tulisan ini selesai? Belum. Sekarang, kita coba periksa bagaimana Al Qur’an memandang soal Perubahan ini?
Ayat yang biasa dikutip adalah Surat ar-Ra’d 13: 11, “sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
Ayat ini sering disalahpahami sebagai ayat untuk mengubah diri jadi lebih baik. Padahal, menurut para ‘Ulama, ayat itu menjelaskan mengapa manusia berubah menjadi tidak baik?
Sebab, sedari awal, manusia itu baik. Tapi, paparan informasi yang salah dan keputusannya sendirilah yang membuatnya jadi punya perasaan, pikiran hingga perbuatan yang buruk.
Seorang doktor di bidang Manajemen Sumber Daya Manusia dan Perilaku Organisasi, yakni DR. Muhammad Rajab Ibrahim Syiam mengatakan,
“Tidaklah tepat jika dikatakan kita harus mengubah diri kita sendiri! Sebab, itu artinya mengubah Kepribadian Unik yang telah Allah Swt. berikan sejak lahir. Hal itu tidak dianjurkan karena mengubah pemberian dari Allah Swt.
Apa yang lebih tepat diucapkan adalah Mengubah apa yang ada pada diriku, bukan mengubah diriku.”
Beliau menyampaikan pandangannya itu setelah membedah huruf ب yang ada pada kata أنفسهم di Surat ar-Ra’d 13 ayat 11, juga di surat al-Anfal 8 ayat 53.
Nah, kembali ke film Sore: Istri dari Masa Depan.
Apa yang membuat Jo jadi punya kebiasaan buruk, sebenarnya adalah keputusannya dia sendiri. Dan, kebiasaan buruk itu bukanlah diri Jo itu sendiri.
Saat Jo berubah, itu bukanlah mengubah dirinya, tapi mengubah apa-apa yang buruk yang ada pada dirinya menjadi hal-hal yang baik — sebagaimana semestinya manusia yang memang baik sedari awalnya.
Memahami ini, amatlah penting bila kita ingin berubah atau ingin memilih gaya Partner-ing kala menemani seseorang untuk berubah.
Pada akhirnya, sampailah kita sekarang kembali pada realita kehidupan rumah tangga kita masing-masing,
saat Suami/Istri ingin mengubah pasangannya, ingat, yang diubah itu bukanlah dirinya, tapi yang diubah adalah apa-apa yang buruk yang ada pada dirinya,
Founder Sekolah Rumah Tangga