Semakin ke sini, semakin banyak fenomena yang membingungkan. Seolah-olah benar, seolah-olah indah, tapi kalau mau jujur dan lebih tenang, banyak yang seolah-olah menenangkan itu ternyata justru membuat gersang jiwa pada ujungnya.
Salah satunya, tentang bagaimana seorang anak memandang kepada orangtuanya?
Bukan sekali dua kali saya menemukan orang yang dengan terang benderangnya mengatakan, “kenapa aku harus berbuat baik sama orangtuaku? Apa karena aku dilahirkan? Tapi kan aku tidak pernah minta dilahirkan dari keduanya?!”
Baiklah, mari kita coba obrolkan tentang hal ini dengan perlahan-lahan.
Saya sebenarnya tidak suka dengan penilaian langsung (judgment) kepada orang lain. Tapi, saya tidak menemukan alasan lain dari kenapa ada anak yang merasa enggan/ berat untuk berbuat baik pada orangtua, kecuali anak itu memang memiliki jiwa yang menjerit karena terluka.
Sebab, jiwa yang tenang akan merasa biasa-biasa saja untuk berbuat baik kepada siapapun, termasuk kepada orangtua. Pemilik jiwa yang tenang itu tidak pernah memiliki lintasan pikiran yang berat “hanya” untuk mencari alasan untuk berbuat baik.
Berbuat baik ya berbuat baik saja, kenapa harus ada alasannya?
Apalagi, kebaikan akan kembali kepada pemilik kebaikan itu sendiri.
Jadi, kenapa bisa ada muncul pertanyaan: “kenapa saya harus berbuat baik sama orangtua?” Ini hal yang tidak pernah terpikirkan bagi pemilik jiwa-jiwa yang tenang. Apalagi sampai berlogika, “kan saya tidak pernah meminta dilahirkan dari orangtua yang seperti itu?”
Ya, memang tidak pernah meminta.
Lalu, atas fakta itu, ada dimana sisi beratnya untuk jadi berbuat baik?
Jadi, atas semua pertanyaan-pertanyaan ini, maafkan saya, jika saya harus sampaikan bahwa orang yang sampai butuh alasan untuk berbuat baik itu adalah orang yang sedang terluka jiwanya.
Dan, memiliki jiwa yang terluka, bukanlah suatu kehinaan. Justru saya menulis ini ingin mencoba membantu, barangkali, setelah ini kondisi lukanya jadi tidak terlalu parah, insyaAllah.
Teman-teman, kita memang tidak memilih untuk dilahirkan dari orangtua yang mana? Maka, jangan fokuskan di sana. Jangan fokus pada sesuatu yang tidak bisa lagi kita ubah. Itu sebuah kesia-siaan. Saran saya, fokuslah pada sesuatu yang bisa kita ubah.
Apakah itu yang bisa kita ubah?
Yakni, “bagaimana saya menjalani hidup atas fakta bahwa saya adalah anak dari orangtua ini?” inilah yang bisa kita ubah.
Dengan kata lain, kita memang tidak memilih untuk dilahirkan dari orangtua yang mana? Tapi, kita bisa memilih bagaimana menjalani kehidupan sebagai anak dari orangtua ini.
Paham, ya?
Nah, jika dalam menjalani kehidupan sebagai anak dari orangtua ini kamu merasa berat, maka yuk coba kita lihat dari sudut pandang lain.
Kita ini hidup di dunia. Perhatikan, bahwa setiap kejadian di dunia ini adalah ujian. Baik itu kejadian yang menyenangkan, apalagi kejadian yang tidak menyenangkan, semuanya adalah ujian.
Dunia itu tempat ujian, bukan tempat yang ideal untuk mendistribusikan kenyamanan, walaupun kita semuanya menginginkan.
Dan, kehidupan dunia ini sering menipu. Kita kira sehat yang membuat hidup bahagia, tapi seringnya sehat itu membuat kita tidak peka, membuat bergerak serampangan, foya-foya. Sebaliknya, seringnya justru kondisi sakit-lah yang membuat hidup jadi lebih tertata, lebih hati-hati, lebih tenang, jadi lebih maklum pada orang lain. Maka, mana yang lebih baik? Sehat kah atau sakit?
Demikian pula dalam hubungan dengan orangtua. Wajar jika anak yang merasa sakit oleh orangtuanya merasa itu adalah sebuah kerugian. Tapi, ingat, kehidupan dunia ini sering menipu. Bagaimana jika rasa sakit yang diterima dari orangtua itu justru membuatmu jadi pribadi yang lebih kuat, lebih penyayang pada sesama, lebih peka pada penderitaan orang lain. Dan itu adalah kebaikan.
Yuk sama-sama kita renungi kalimat-kalimat ini.
“Luka adalah cara Allah Menunjukkan bagian dari hatimu yang masih bergantung kepada selain-Nya. Berterimakasihlah atas luka, karena dengan begitu, kau jadi Bergantung hanya kepada Allah. Dan oleh karenanya, hatimu menjadi tenang sebab mengerti kepada siapa ia menyandarkan suatu urusan.”
“Jujurlah bahwa yang membuat sakit itu bukanlah peristiwanya, tapi keterikatan hatimu, kemelekatan hatimu, pada apa yang hilang melalui peristiwa itu. Maka, lepaskan kemelekatan itu.”
“Luka yang membawamu kembali kepada Allah adalah Rahmat yang sedang menyamar dalam bentuk lain. Pahamilah ini.”
Bagaimana?
Sudah agak tenang sekarang?
Saya paham, luka tidak serta merta sembuh hanya dengan kalimat-kalimat hikmah. Luka itu akan sembuh saat kita berbuat baik kepada orang yang kita anggap dialah penyebab luka itu hadir.
Maka, tim Sekolah Rumah Tangga, terus melakukan perbaikan membuat program pendampingan untuk Belajar Birrul Walidain – “Membersihkan Jiwa, Menghidupkan Bakti pada Orangtua”
InsyaAllah, program untuk angkatan ke-lima ini akan didampingi oleh saya dalam kerangka Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa dan Penggalian Hikmah), juga didampingi oleh Teh Fitri Yulia Agustina dalam kerangka Terapi Penyembuhan Emosi.
Jika Anda punya sahabat atau keluarga yang membutuhkan program ini, atau justru Anda sendirilah yang memerlukannya, ada 3 Pilihan Program sesuai dengan kondisi masing-masing:
PULIH | BERBAKTI | RIDHA
Apa perbedaan dari masing-masing program itu?
Silakan, informasi lengkapnya bisa didapatkan DISINI
“Bukanlah luka itu yang membinasakan, justru hati yang menolak untuk belajar darinya-lah yang menyengsarakan.”
Dan sungguh, sebaik-baiknya kawan perjalanan dalam pembasuhan luka ini adalah ilmu.
oleh: Ulum A Saif
Founder Sekolah Rumah Tangga