Menjelang akhir Ramadhan, sebagian kita menjadi ujian bagi sebagian yang lain.
Anak-anak, menjadi ujian bagi orangtuanya, terutama bagi yang punya kebiasaan bertahun-tahun untuk memberikan hadiah baju baru, baju lebaran, atau bahkan mainan kesukaan. Orangtua pun, menjadi ujian bagi anak-anak, terutama dalam merawat rasa cinta akan Rabb-nya. Salah-salah dalam mendidik, maka benih cinta itu jadi gagal tumbuh, terkubur, tersimpangkan.
Karyawan, menjadi ujian bagi Business Owner, terutama soal pemberian Tunjangan Hari Raya. Berbarengan dengan masa-masa gajian. Belum lagi ada “Jatah Preman” dari oknum ormas. Business Owner pun menjadi ujian bagi Karyawan, terutama soal instruksi kerja-kerja-kerja yang amat keras bagai kuda, “dicambuk dan didera”.
Yang masih jomblo padahal mampu, menjadi ujian bagi keluarganya yang sudah menikah. Dan, yang sudah menikah pun adalah ujian bagi keluarganya yang masih jomblo, dengan seringnya ditanya, “kapan kamu nikah?”
Di kondisi-kondisi seperti ini, beberapa orang menanti, “Kapan Keberuntungan itu Datang?”
Anak-anak berharap dapat keberuntungan, yaitu mainan baru dan baju baru.
Orangtua pun berharap dapat keberuntungan di Akhir Ramadhan sehingga bisa membelikan anaknya sesuatu.
Karyawan berharap dapat keberuntungan, yaitu THR.
Business Owner berharap dapat keberuntungan, sehingga bisa memberi THR.
Jomblowati, tentu saja berharap dapat keberuntungan, yakni seseorang yang hatinya sudah condong padanya, bisa tiba-tiba bertamu dan melamarnya.
Jomblowan, tentu saja berharap dapat keberuntungan, yakni semoga ada yang mau menerima dirinya untuk melabuhkan cinta halalnya.
Dimanakah keberuntungan ini ada?
Al Qur’an, sebagai petunjuk hidup manusia, sekaligus menjadikan Ramadhan ini istimewa karena diturunkannya ia ke langit dunia, mengabarkan kepada kita tentang keberuntungan ini.
Kata dalam Al Qur’an yang bermakna keberuntungan yang sesuai dengan konteks pembahasan kita ini adalah kata حَظٍّ “Hadhdhin”
Orang-orang pada umumnya, mempersepsikan keberuntungan itu seperti orang-orang di zaman Nabi Musa as. kala melihat kesuksesannya Qarun. Dalam persepsi kebanyakan, Qarun adalah orang yang beruntung,
QS. Al Qashshash [28] ayat 79
فَخَرَجَ عَلٰى قَوْمِهٖ فِيْ زِيْنَتِهٖۗ قَالَ الَّذِيْنَ يُرِيْدُوْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا يٰلَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَآ اُوْتِيَ قَارُوْنُۙ اِنَّهٗ لَذُوْ حَظٍّ عَظِيْمٍ ٧٩
Maka, keluarlah dia (Qarun) kepada kaumnya dengan kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, “Andaikata kita mempunyai harta kekayaan seperti yang telah diberikan kepada Qarun. Sesungguhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.”
Para ulama tafsir menjelaskan (di Tafsir Ath-Thabari), Qarun keluar dengan baju mewah, diiringi dengan 300 gadis berbaju merah dan 4.000 kuda.
Jadi, Luck Factor yang dibayang-bayangkan oleh orang kebanyakan adalah keberuntungan sebagaimana yang didapat oleh Qarun.
Padahal, akhir hidup Qarun amatlah tragis. Buat apa punya baju mewah, megah, ada ratusan gadis cantik, ribuan hewan tunggangan (zaman sekarang berarti kendaraan mewah), harta berlimpah, tapi harus mati dalam kondisi yang amat sengsara? Buat apa?
Kata حَظٍّ yang bermakna beruntung, di Al Qur’an, hanya ada 2. Satu sudah kita ketahui, yaitu keberuntungan palsu yang didapat oleh Qarun. Satu lagi, justru adalah petunjuk bagi kita tentang Hakikat Keberuntungan yang Sejati, yang akan membuat kita tenang, bahagia, sukses yang sebenarnya, tenteram hingga akhir hayat.
Apakah itu Hakikat Keberuntungan yang Sejati?
Terdapat pada QS. Fushshilat [41] ayat 34 – 35.
Menurut Dr. Muhammad Rojab, seorang pakar di bidang Manajemen SDM dan Perilaku Organisasi dari Mesir, inilah ayat di Al Qur’an yang menjelaskan tentang kesejatian dari Luck Factor (Faktor Keberuntungan) yang semestinya dimiliki oleh orang-orang.
وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُۗ اِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ ٣٤
Tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan perilaku yang lebih baik sehingga orang yang ada permusuhan denganmu serta-merta menjadi seperti teman yang sangat setia.
وَمَا يُلَقّٰىهَآ اِلَّا الَّذِيْنَ صَبَرُوْاۚ وَمَا يُلَقّٰىهَآ اِلَّا ذُوْ حَظٍّ عَظِيْمٍ ٣٥
(Sifat-sifat yang baik itu) tidak akan dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar dan tidak (pula) dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.
Dari ayat ini, kita mendapati petunjuk nan agung, bahwa sejatinya Orang yang Mendapat Keberuntungan yang Besar itu adalah orang yang mampu membalas keburukan dengan kebaikan.
Ia disakiti, ia didzalimi, ia dicurangi, ia dikhianati, ia difitnah, dikata-katai, dibodoh-bodohi, tapi.. justru ia balas semuanya itu dengan amal kebaikan.
Inilah orang yang paling beruntung.
Kira-kira sebening apa hati dari orang ini? Selapang apa luasnya hati orang ini? Setenang apa jiwanya?
Masihkah ada orang semacam ini di Akhir bulan Ramadhan ini?
Founder Sekolah Rumah Tangga