oleh: Doan Astrian (Alumni Kelas Belajar Jadi Suami – Batch 22) asal Yogyakarta
Saat ini adalah era di mana teknologi memimpin, muncul kekhawatiran akan kecepatan respons dari gadget dibandingkan dengan orang tua. Gadget, seperti smartphone dan tablet, dirancang dengan teknologi mutakhir yang dengan berbagai sensor dan algoritma pintar yang memungkinkan mereka untuk mendeteksi sentuhan, gerakan, dan perintah suara dengan sangat cepat dan akurat. Selain itu, perkembangan kecerdasan buatan juga turut berkontribusi dalam meningkatkan responsivitas gadget.
Gadget cenderung memberikan respon yang lebih cepat dan instan dibandingkan dengan orang tua. Hal ini karena teknologi dirancang untuk memberikan umpan balik seketika, sementara respon dari orang tua mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama tergantung pada situasi dan kebutuhan anak. Gadget juga dapat memberikan respons yang konsisten dan dapat diakses kapan saja, tanpa mempertimbangkan jadwal atau keterbatasan waktu yang dimiliki oleh orang tua. Meskipun gadget memiliki keunggulan dalam responsibilitas instan, penting untuk diingat bahwa keterlibatan dan kehadiran orang tua dalam kehidupan anak tetap sangat penting untuk perkembangan dan kesejahteraannya secara keseluruhan.
Ketergantungan anak pada gadget telah menjadi fenomena umum dalam masyarakat modern. Gadget seperti ponsel dan tablet memberikan respons instan ketika disentuh, memenuhi kebutuhan hiburan anak dengan cepat. Namun, hal ini juga dapat mengakibatkan anak menjadi terlalu tergantung pada teknologi, sehingga mereka lebih memilih mencari hiburan dari gadget daripada berinteraksi dengan orang tua atau melakukan aktivitas lainnya. Dalam situasi ini, seberapa responsifkah kita ketika anak membutuhkan perhatian atau interaksi? Apakah harus menunggu anak meminta perhatian berulang kali sebelum mendapatkan respon? Hal ini adalah pertanyaan penting yang perlu di telaah bersama untuk mencari solusi yang terbaik. Meskipun gadget bisa memberikan kenyamanan dan hiburan, orang tua juga harus memastikan bahwa mereka tetap menjadi sumber dukungan emosional dan interaksi nyata bagi anak-anaknya.
Seringkali, dalam situasi di mana anak rewel, histeris, atau bahkan tantrum, mengaktifkan video atau game favorit di gadget bisa menjadi solusi cepat. Memang terasa memprihatinkan bahwa banyak kasus serupa terjadi, dan para kita tidak sendirian mengalaminya. Tidak perlu merasa down atau bersalah karena keadaan ini, karena ini adalah tantangan umum yang dihadapi banyak orang tua. Yang penting, kita sebagai orang tua dapat bekerja sama untuk mencari solusi terbaik. Dengan memahami bahwa ketergantungan pada gadget adalah fenomena yang umum, orang tua dapat bekerja sama untuk menemukan cara mengatasi hal ini dan memastikan bahwa anak-anak mereka juga dapat mengembangkan keterampilan dan kebiasaan yang sehat di luar penggunaan teknologi.
Apa solusinya?
Ketika anak merasa rewel, bosan, histeris, atau mengalami tantrum, memeluk adalah hal yang bisa dilakukan orang tua. Memeluk anak saat rewel atau tantrum dapat memberikan beberapa manfaat yang penting. Pertama-tama, pelukan dapat menghibur dan menenangkan anak. Ini karena pelukan ibu adalah sumber kenyamanan dan keamanan bagi anak, dan saat merasa marah atau frustasi, pelukan dapat membantu anak merasa tenang dan aman. Selain itu, pelukan juga dapat mengurangi stres. Ketika anak mengalami rewel atau tantrum, tubuh mereka bisa menjadi tegang dan stres, dan pelukan yang hangat dan lembut dapat membantu mengurangi ketegangan fisik dan emosional.
Selain itu, memeluk anak saat rewel atau tantrum juga membantu membangun koneksi emosional antara orang tua dan anak. Pelukan adalah bentuk fisik dari kasih sayang dan perhatian, dan dengan memeluk anak saat mereka kesulitan, orang tua memperkuat ikatan emosional antara mereka. Selain itu, memeluk anak juga mengajarkan regulasi emosi. Dengan memeluk anak, orang tua menunjukkan kepada mereka cara mengelola emosi dengan baik dan memberi contoh positif tentang cara merespons dengan tenang dan penuh kasih sayang.
Selain itu, memeluk anak saat rewel atau tantrum juga memberikan rasa keamanan kepada mereka. Ketika anak merasa marah atau kesal, mereka mungkin merasa kebingungan atau takut. Namun, pelukan dari orang tua memberikan rasa keamanan dan keyakinan bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi emosi mereka. Terakhir, memeluk anak juga membantu mereka pulih setelah rewel atau tantrum mereda. Pelukan dapat membantu anak merasa lebih baik dan memungkinkan orang tua untuk berbicara dan berbagi momen tenang bersama.
Penting untuk tidak meninggalkan mereka dalam kondisi seperti rewel atau tantrum. Beberapa kasus menunjukkan bahwa jika anak ditinggal, mereka merasa diabaikan dan tidak ada yang benar-benar memahami perasaan mereka. Mereka merasa sendirian dan akhirnya kembali bergantung pada gadget.
Setelah memeluk anak saat tantrum, orang tua dapat mencoba untuk benar-benar memahami sejauh mana emosi yang dirasakan oleh anak. Bayangkan jika kita sebagai orang tua yang berada dalam posisi mereka dan berusaha untuk benar-benar berempati dengan keinginan atau kebutuhan yang mereka miliki. Setelah memperoleh kepercayaan dan rasa aman dari anak, barulah orang tua dapat memberikan saran atau pilihan yang sesuai dengan arahan yang kita berikan demi kebaikan dan kesejahteraan mereka. Dengan demikian, sikap empati dan pengertian dari orang tua dapat membantu membangun hubungan yang lebih kuat dan saling percaya antara anak dan orang tua.
Penting untuk tidak selalu mencari jawaban dari orang lain dengan mengatakan, “Mengapa anakku seperti ini?” Sebaliknya, coba pertanyaan ini tanyakan pada diri sendiri. Seberapa dalam kita sebagai orang tua memahami anak-anak? Anda lebih tahu dan lebih dekat dengan mereka dibandingkan orang lain. Mungkin sudah saatnya berdamai dengan hati dan menjadi orang tua yang bahagia bersama anak-anak hebat kita. Mereka butuh waktu, perhatian, dan kasih sayang dari kita, bukan sekadar ketergantungan pada gadget yang hanya memberi kenikmatan sesaat. Semoga ini memberikan semangat dan bermanfaat!