oleh: Ulum A Saif
“Ba, ayo nulis lagi, tentang kehidupan sehari-hari aja yang nyata terjadi. Kalau nulis soal keilmuan, sekarang udah banyak. Apalagi ada AI. Yang tidak bisa dibuat oleh AI adalah menulis kisah nyata apa yang dialami…”
Di detik yang sama, batin dan pikiran saya menepis saran itu.
Pertama, yang lihai menulis kejadian sehari-hari adalah dia. Jadi, saat istri memberi saran itu, pemaknaan awal saya: ’oh itu masukan untuk dirinya sendiri.’
Kedua, dari tahun lalu, saya mulai mengurangi berbagi tentang kisah-kisah pribadi karena ingin berhati-hati dalam niat: ’ini apakah betul bentuk dari Indirect Teaching atau pamer yang dibungkus inspirasi?’
Ketiga, saya sedang menikmati kegiatan offline. Apalagi ini Ramadhan. Saya mulai merasa sosial media sudah tidak lagi relevan.
Belum saya respon masukan istri itu, tiba-tiba ingatan saya terlempar ke masa kecil. Saat itu usia saya masih 10 tahun.
Saya kecil punya kebiasaan menuliskan ulang kata-kata yang amat berkesan, lalu saya tempel di dinding kamar agar saya bisa sering membacanya.
Di antara kalimat yang paling berkesan itu adalah “Orang yang paling kuat bukanlah orang yang menang dalam bergulat, melainkan orang yang menang melawan hawa nafsunya sendiri.”
Anak kecil 10 tahun tentu saja masih terbatas dalam memahami arti dari Hawa Nafsu. Dulu, kalimat itu dipahami sederhana: “jika ingin meledak marah, itulah peperangan. Dan pemenang perang adalah mereka yang bisa menahan ledakan amarahnya.”
Kini, setelah berumah tangga, rupanya ada tambahan pemahaman lagi bahwa Hawa Nafsu ternyata bukan hanya soal marah. Medan peperangan dengan diri sendiri —dalam rumah tangga, justru sering terjadi pada saat ada saran dan masukan dari Istri.
Bagi perempuan mungkin ini tidak begitu relate. Namun, bagi sebagian banyak lelaki, menerima masukan berarti sebuah tanda bahwa dirinya lemah atau minimalnya gagal dalam melihat sesuatu, yang justru sesuatu itu dilihat dengan amat jelas oleh si pemberi saran.
Dan, ketika yang memberi saran itu adalah istri, suasana batin jadi tidak sederhana karena si suami merasa sedang ada dalam kondisi yang lemah padahal ia inginnya terus ada di posisi yang kuat untuk melindungi istri.
Dengan kata lain; Suami GENGSI.
Percaya atau tidak, sebagai suami, di antara perkara yang paling sulit untuk ditaklukkan dari dirinya sendiri adalah rasa gengsi untuk mendengar saran masukan dari Istri.
Anda boleh saja bilang, ”oh itu laki-lakinya saja yang belum dewasa.” Boleh. Tapi, satu hal yang pasti adalah laki-laki dewasa itu tidak akan menjadi dewasa sebelum dia melewati Medan Jihad berperang dengan dirinya sendiri untuk menaklukkan rasa Gengsinya itu.
Pria yang tenang menerima masukan adalah pria yang dulunya keras kepala dengan pendapatnya sendiri.
Soal Istri yang memberi masukan, dan suami yang gengsi ini, bagaimana pendapat kalian?
Founder Sekolah Rumah Tangga