Suami yang berjuang untuk menafkahi keluarga adalah keistimewaan sekaligus di sana letak ujiannya.
Itu adalah jihadnya. Itu adalah bentuk ta’at dirinya sebagai Hamba pada Rabb-nya. Itu adalah bentuk tanggungjawab kepada keluarganya.
Namun, bila dalam perjuangannya itu ada tekanan dari sana-sini, ada hasil yang tak sesuai usaha, ada fitnah, masalah yang seolah tak kunjung selesai…
apakah lantas suami yang bercerita keluh kesahnya kepada perempuan lain (yang bukan Mahram) adalah solusi terbaik?
Di sisi lain, saat ia tumpahkan keluh kesahnya pada istrinya, ia justru mendapat tekanan batin tambahan.
Tumpahan keluh kesahnya di tempat kerja, justru dimentahkan karena istrinya juga mengeluhkan bosannya ia di dalam rumah yang hanya mengerjakan itu-itu saja.
Belum lagi ada bumbu kata-kata yang merendahkan harga diri suami, membuat berpikir berkali-kali untuk “curhat” pada Istrinya sendiri.
Dan, kekhawatiran terbesar suami saat bercerita “kelemahannya” kepada istri dalam hala menafkahi ialah…
ia khawatir ceritanya itu akan memantik istrinya untuk ikut mencari nafkah —padahal itu bukan kewajibannya, sehingga karenanya qowwamah suami jadi jatuh serendah-rendahnya.
Maka, solusi apa yang bisa kita gunakan di kasus ini? Terkhusus bagi para Suami?
Dalam Pendidikan Islam, pusat dari segala dinamika psikologis seseorang itu ada pada Nafs.
Dan, Nafs Manusia (Insan) itu adalah Nafs yang sempurna, sehingga ia memahami ada 2 jalan pilihan; keburukan atau kebaikan.
QS. Asy-Syams: 7-8
وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰىهَاۖ ٧
dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya,
فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَاۖ ٨
lalu Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya,
sehingga, saat kita mengalami dinamika psikologis yang mempengaruhi pikiran, perasaan, hingga tindakan, perhatikanlah ke dalam. Pahami kecenderungan dari Nafs Insaniyah ini.
Dan, di antara penjelasannya akan kita dapati pada pertengahan surat Al Ma’arij, bahkan lengkap dengan solusinya.
اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًاۙ ١٩
Sesungguhnya manusia diciptakan dengan sifat keluh kesah.
هلوعا
adalah Cepat sedih, cepat gelisah, kurang sabar.
Dalam Tafsir Al Munir, Syaikh Wahbah Az Zuhaili mengingatkan bahwa berdasarkan struktur Bahasa Arab-nya, berkeluh kesahnya manusia itu bukanlah sifat yang muncul sedari awal diciptakan, melainkan itu muncul belakangan setelah diciptakan. Artinya, menjadi berkeluh kesah adalah pilihan manusia dalam hidupnya.
Kembali pada konteks suami yang merasa terhimpit dalam perjuangannya bekerja dan menafkahi keluarga, bila kita merasa lelah fisik dan emosi, terimalah perasaan itu sebab itu adalah hal yang manusiawi. Namun ingat, penerimaan ini bukanlah ujung dari solusi.
Selengkapnya di Surat Al Ma’arij ayat 19-21:
اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًاۙ ١٩
Sesungguhnya manusia diciptakan dengan sifat keluh kesah
هلوعا
maknanya: Cepat sedih, cepat gelisah, kurang sabar
اِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًاۙ ٢٠
Apabila ditimpa keburukan (kesusahan), ia putus asa.
جزوعا
maknanya: Cepat putus asa, sedih yang memalingkan dia dari tugas-tugasnya
وَّاِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًاۙ ٢١
Apabila mendapat kebaikan (harta), ia amat kikir,
منوعا
maknya: Berlebihan dalam menolak, ketika dia mendapat keberlimpahan
Ayat-ayat berikutnya adalah solusi, dan ini menjadi pengingat untuk saya pribadi juga untuk semua Suami di luaran sana…
saat kita dilanda kebuntuan, merasa ingin mengeluh, gelisah, kurang sabar, putus harapan, dan segala pergulatan batin lainnya kala menunaikan tugas kita sebagai suami, jadilah seseorang yang memiliki 10 Sifat berdasarkan ayat 22-35 Surat Al Ma’arij, berikut ini:
اِلَّا الْمُصَلِّيْنَۙ ٢٢
الَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَاتِهِمْ دَاۤىِٕمُوْنَۖ ٢٣
وَالَّذِيْنَ فِيْٓ اَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُوْمٌۖ ٢٤
لِّلسَّاۤىِٕلِ وَالْمَحْرُوْمِۖ ٢٥
وَالَّذِيْنَ يُصَدِّقُوْنَ بِيَوْمِ الدِّيْنِۖ ٢٦
وَالَّذِيْنَ هُمْ مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِمْ مُّشْفِقُوْنَۚ ٢٧
اِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُوْنٍۖ ٢٨
وَّالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حٰفِظُوْنَۙ ٢٩
اِلَّا عَلٰٓى اَزْوَاجِهِمْ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُمْ فَاِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَۚ ٣٠
فَمَنِ ابْتَغٰى وَرَاۤءَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْعَادُوْنَۚ ٣١
وَالَّذِيْنَ هُمْ لِاَمٰنٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رٰعُوْنَۖ ٣٢
وَالَّذِيْنَ هُمْ بِشَهٰدٰتِهِمْ قَاۤىِٕمُوْنَۖ ٣٣
وَالَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُوْنَۖ ٣٤
اُولٰۤىِٕكَ فِيْ جَنّٰتٍ مُّكْرَمُوْنَۗࣖ ٣٥
(berdasarkan QS. Al Ma’arij ayat 22) adalah Sholat.
Saat gelisah, hasil yang seolah tak sesuai dengan usaha, khawatir akan masa depan keluarga, ketenangan itu datang justru pada saat kita Sholat.
Saya sudah sholat, tapi kenapa tidak tenang?
Maka, evaluasi, seberapa paham kita dengan Sholat ini? Apakah sudah memahami semua bacaan sholatnya? Apakah sudah ditunaikan Syarat Sah dan Rukun Sholatnya? Bagaimana kita menghadirkan kekhusyuan dalam setiap gerakan Sholat? Apakah kita sudah sampai pada Kondisi bahwa Sholat adalah Mi’rajnya kita (perjalanan spiritual menuju ke langit) sebagai orang beriman?
Jika belum, maka itulah jawaban kenapa kita sholat tapi belum tenang.
(berdasarkan QS. Al Ma’arij ayat 23) adalah Teruslah Sholat.
Ya, bila dilanda kegelisahan, justru itulah masanya kita giat-giatnya Sholat. Bukanlah malah meninggalkan Sholat, lalu menunjukkan bahwa itu adalah “bentuk protes” kepada Pengatur Takdir. Sungguh, Allah Swt tidak akan rugi sedikit pun bila kita tidak sholat. Justru, jiwa kitalah yang semakin kering dan gersang saat tidak sholat.
Teruslah Sholat berarti menunaikan bukan hanya Sholat Fardhu saja melainkan juga mulai menunaikan Sholat-Sholat Sunnah lainnya.
(berdasarkan QS. Al Ma’arij ayat 24-25) adalah perhatikan harta yang dimiliki, tunaikan pada yang berhak.
Sesempit-sempitnya harta yang kita punya, mulailah bersedekah. Suami yang sedang ada masalah di rumah tangganya, bersedekahlah. Apalagi jika kepusingan itu muncul karena punya harta berlebih. Saldo Rekening yang seolah tak ada habisnya, jangan dikira bahwa itu semua adalah milik kita. Ada hak orang lain.
Dan, orang lain yang berhak atas harta kita itu ada yang meminta-minta, ada juga mereka yang mengharamkan dirinya untuk meminta-minta padahal sebetulnya ada hak mereka dari harta yang kita punya. Cobalah untuk kepeka pada orang-orang ini.
(berdasarkan QS. Al Ma’arij ayat 26) adalah pertebal keyakinan bahwa akan ada Pembalasan yang paling adil di Hari Akhir nanti.
Bila di dunia ini kita merasa bahwa hasil yang didapat tak sesuai dengan usaha, maka usaha itu akan ada balasannya yang setimpal di Akhirat nanti. Kebaikan yang kita lakukan, pasti akan ada balasan kebaikan lagi. Sebaliknya, keburukan yang kita lakukan juga pasti akan ada balasan keburukan lagi.
Maka, tetaplah berikhtiar (memilih yang baik), dan yakin bahwa nanti akan ada balasan dari pilihan-pilihan baik in
(berdasarkan QS. Al Ma’arij ayat 27-28) adalah tetap waspada, tidak memilih jalan keburukan, sebab tidak ada yang aman dari siksa Allah ta’ala.
Ini membuat kita berhati-hati. Tidak mudah memilih solusi-solusi yang sepertinya menjanjikan dan instan, padahal justru mengundang Kemurkaan. Bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Berpikir lebih cerdas, berjuang lebih keras, lakukan semuanya dalam koridor halal dan sah sesuai Panduan-Nya.
(berdasarkan QS. Al Ma’arij ayat 29-31) adalah menjaga kemaluan. Syahwat terhadap lawan jenis yang memang manusiawi muncul itu, hanya disalurkan kepada pasangan yang halal.
Bila dikaji lebih dalam, tentu saja solusi ini akan menjadi sangat luas pembahasannya, seperti misalnya menjaga apa yang dilihat, apa yang didengar, juga menjaga hati agar senantiasa melihat sisi baik yang disyukuri dari pasangan.
Para ahli menyebutkan bahwa bagi laki-laki, persoalan kemaluan ini adalah persoalan pertemuan fisik semata. Sementara bagi Perempuan, persoalan kemaluan ini adalah persoalan pertemuan (koneksi) jiwa. Jika istri memahami dari POV Suami, dan sebaliknya, suami memahami dari POV Istri, maka menjaga kemaluan akan benar-benar menjadi solusi atas berbagai himpitan penat juga kegelisahan yang terjadi.
(berdasarkan QS. Al Ma’arij ayat 32, bagian awal) adalah menjaga Amanah.
Gelisah, keluh kesah, bahkan putus asa, boleh jadi karena kita lalai dalam menjaga Amanah. Maka, periksalah kembali, Amanah-Amanah apa yang semestinya kita tunaikan, namun kita lupa atau bahkan menghindar darinya.
Solusi Kedelapan
(berdasarkan QS. Al Ma’arij ayat 32, bagian akhir) adalah menunaikan Janji.
Sepaket dengan Amanah, juga adalah penunaikan akan janji. Kembali periksa, ingat-ingat lagi, hal apa yang pernah kita janjikan pada oranglain, namun belum kita tunaikan. Hal yang demikian, akan membuat jiwa kita terpenjara oleh rasa bersalah. Maka, tunaikanlah.
(berdasarkan QS. Al Ma’arij ayat 33) adalah memberikan kesaksian yang benar.
Di sini, pelajarannya adalah jangan terbiasa untuk berbohong. Terutama ketika berbicara kepada orang di luar rumah, maksudnya selain kepada pasangan. Sampaikan saja apa adanya, meskipun itu pahit.
Kadang, kita ini terbalik. Kepada orang asing, kita malah bermanis-manis lidah, sampai memberikan keterangan yang palsu. Tapi, kepada pasangan sendiri, justru malah memberikan kalimat-kalimat yang pahit.
Padahal, dalam konteks rumah tangga, bohong kepada pasangan itu diperbolehkan. Dengan catatan bahwa kebohongan yang diperbolehkan itu adalah kebohongan yang menguatkan ikatan Cinta antara Suami & Istri.
Misal, saat istri bertanya, “Mas, makananku ini enak kan?”
Mungkin, aslinya, makanan itu tidak terlalu enak. Maka, di sini, suami diperbolehkan untuk berbohong. Jangan sampai malah bilang, “hmm.. ini enggak enak! Jauh lebih enak makanan bikinan teman kantorku.”
Sekalipun mungkin itu adalah fakta, tapi itu akan merusak ikatan Cinta antara Suami dan Istri.
Paham, ya?
(berdasarkan QS. Al Ma’arij ayat 34) adalah menjaga Sholat.
Sepuluh Sifat yang menjadi penawar atas kebiasaan keluh kesah ini adalah Sepuluh Sifat yang juga dijelaskan oleh Syaikh Wahbah Az Zuhaili dalam Tafsir Al Munir. Beliau menjelaskan, sifat kesepuluh, yakni menjaga Sholat, berarti ia menjaga segala amal perbuatannya setelah ia sholat. Jadi, ia tidak merusak pahala sholat yang baru saja ia kerjakan, inilah makna dari sifat kesepuluh.
Jika sepeluh sifat ini disiplin kita lakukan, maka inilah solusi.
Bisa dipraktikkan, landasannya kuat, dan terbukti.
Jika ini adalah kali pertama kamu sampai di postingan ini,
Salam Silaturrahim, saya Ulum Asaif,
Partner Belajar Kepala Keluarga dengan pendekatan Tazkiyatun Nafs.
Semoga ada banyak manfaat dari tulisan-tulisan di website ini.
Salam.
Founder Sekolah Rumah Tangga