
Di antara puluhan pertanyaan yang masuk, ada satu pertanyaan ini yang dibahas di sesi Live Streaming Tanya Jawab soal “Belajar Jadi Suami” beberapa hari lalu.
“Bagaimana menjadi Suami yang tidak kalah dari Istri yang mendominasi?”
Sebelum menjawab pertanyaan “Bagaimana?” Coba kita tanyakan dulu “Kenapa?”
Kenapa istri jadi mendominasi?
Rata-rata, jawabannya adalah karena suami tidak cakap dalam mengambil keputusan, sehingga istri jadi ngerasa gemes sendiri dan mengambil alih keputusan dalam keluarga.
Pada saat istri lebih aktif dalam mengambil alih keputusan dalam keluarga, fenomena inilah yang disebut dengan istri yang mendominasi.
Tapi ‘kan itu jawaban permukaan ya? Saat suami tidak cakap (piawai) dalam mengambil keputusan, lalu istri mengambil alih keputusan dalam keluarga, itu ‘kan jawaban permukaan.
Kita bisa gali lebih dalam lagi, “Saat suaminya tidak cakap dalam mengambil keputusan, mengapa respon dari istri adalah mengambil alih keputusan keluarga? Mengapa responnya demikian? Ada referensi apa yang masuk yang menjadi pertimbangan istri untuk merespon secara demikian? Ada pengalaman apa dari istri yang membuatnya jadi berbuat demikian?”
Dan, pertanyaan yang lebih dasar lagi dari itu semua adalah,
“Mengapa istri melihat suaminya tidak piawai dalam mengambil keputusan?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti tadi itu, penting untuk menjadi bahan perenungannya para suami. Tidak langsung lompat pada solusi (jalan keluar), tapi mundurlah sejenak ke belakang untuk menggali, “Kenapa ini terjadi?”
Seandainya suami pada akhirnya tidak menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu, maka pengalaman berpikir mencari jawaban dari “Why” sedikit banyak akan menaikkan kapabilitas suami dalam mengambil keputusan.
Sekarang, mari kita jawab pertanyaan kenapa respon istri adalah mengambil alih keputusan keluarga, dan kenapa yang istri lihat adalah suaminya tidak piawai dalam mengambil keputusan?
Ada 2 Guru Keluarga yang kami jadikan rujukan dalam persoalan ini, pertama adalah Alm. Ustadz Harry Santosa Hasan, dan Ustadz Adriano Rusfi (Psikolog).
Seterbatas dari apa yang kami pahami dari beliau berdua, fenomena istri mendominasi ini terjadi karena istri (dan juga perempuan pada umumnya) di zaman ini tidak terbiasa untuk menggunakan sisi rasa (rahim) dalam dirinya.
Mengapa tidak terbiasa untuk menggunakan sisi rasa (rahim) dalam dirinya? Karena pendidikan yang diberikan kepada perempuan (melalui jalur persekolahan hingga perguruan tinggi) amat dominan menstimulus kognitif atau nalar.
Bila kesimpulan ini keliru, maka kekeliruan ada pada kami, bukan pada guru-guru kami.
Menyalah-nyalahkan zaman, tidak akan mengubah apapun. Apa yang sudah terjadi, pasti sudah menjadi yang terbaik dalam Perhitungan Allah. Kemampuan kita yang terbatas ini yang belum sanggup untuk menyingkap apa Maksud Allah dari peristiwa-peristiwa ini?
Setelah kesemua pertanyaan itu kita renungkan dan coba kita gali penyebabnya, sekarang kita masuk pada pertanyaan “Bagaimana?”
Bagaimana menjadi Suami yang tidak kalah dari Istri yang mendominasi?
Jawaban pertama, bila pernikahan belum terjadi, maka antara calon suami dan calon istri bisa saling bersepakat untuk tidak perlu memunculkan “idea” tentang dominasi.
Posisi suami sebagai Qowwam (imam) bukanlah posisi untuk mendominasi. Posisi istri sebagai yang dilindungi (ma’mum) bukanlah posisi yang didominasi.
Suami sebagai Qowwam adalah sosok yang bertanggungjawab dalam keluarga. Istri pun punya tanggungjawab di dalam lingkup tanggungjawabnya suami.
Maka, bila pernikahan belum terjadi, antara posisi suami dan istri perlu untuk didudukkan sebagaimana mestinya, agar kekhawatiran soal dominasi-dominasi itu bisa diselesaikan.
Lantas, bagaimana jika dominasi istri justru sudah terjadi? Apa yang bisa suami lakukan?
Saran yang biasa disampaikan adalah, “Jangan hadapi dominansi itu dengan dominansi pula,” itu ibarat menuang minyak ke dalam api.
Hadapilah dominasi istri dengan kelemahlembutan.
Suami yang lemah lembut kepada istri, bukanlah suami yang kalah dominan dari istrinya. Alasannya adalah pada saat suami berlaku lemah lembut kepada istrinya, perlahan-lahan itu akan menstimulus sisi rasa (rahim) dalam diri istri.
Dulu, istri tidak punya cukup referensi bagaimana bersikap lemah lembut, kini suaminya bersikap lemah lembut, sikap itu menjadi referensi bagi istri sekaligus menstimulus sisi rasa dalam dirinya. Maka di posisi ini sebetulnya suami-lah yang mempengaruhi istri.
Alasan berikutnya adalah kuat sekali hasil penelitiannya bahwa perempuan yang mendominasi itu perempuan yang sedang ingin diperhatikan, diakui keberadaannya, juga diapresiasi.
Maka, menghadapi dominasi istri dengan kelemahlembutan akan berjalan baik sebab pada dasarnya istri bukan ingin mendominasi, akan tetapi istri sedang ingin diakui keberadaannya.
Contoh yang kerap disarankan adalah saat istri memasak, sampaikanlah padanya, “Terima Kasih, ya, sudah memasak.”
Bagi suami, mungkin kalimat itu sederhana, tapi bagi istri yang merasa dirinya selama ini tidak diakui keberadaannya, merasa tidak mendapat apresiasi, kalimat pendek dari suami itu amat sangat berarti bagi dirinya.
Dan, atas izin Allah, perlahan-lahan, dominasi istri itu akan berubah menjadi kelemahlembutan pula.
Mari, kita berlomba-lomba untuk berlemahlembut kepada pasangan kita masing-masing, bukan berlomba-lomba untuk saling mendominasi satu sama lain.
Yakinlah bahwa memperbaiki relasi suami istri itu sama dengan memperbaiki generasi.
_________
Rekomendasi kelas online yang flexible namun tetap sesuai kalender pembelajaran untuk belajar menjadi Suami & Istri
Kelas belajar jadi suami batch 32
Kelas belajar jadi istri batch 32
Founder Sekolah Rumah Tangga